Selasa, 12 April 2022Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., mengatakan jika era digital telah membawa manusia untuk hidup di dunia virtual, terlebih setelah adanya pandemi COVID-19 kegiatan beralih menjadi kegiatan di dunia digital. Hal ini mendorong manusia untuk berbagi dan juga menyebarkan data pribadi kepada orang lain maupun penyedia layanan. Maka dari itu, munculah dampak negatif dari penggunaan teknologi digital. Semua data yang ada pada dunia digital, tergabung dalam sebuah sistem yang disebut dengan big data dan data tersebut digunakan untuk berbagai hal. Dunia digital menghilangkan privasi individu sehingga seseorang mudah sekali untuk dilacak keberadaannya, kebiasaannya, bahkan hobinya. Beliau kemudian memberikan beberapa cara agar pengguna media digital tetap dapat menjaga privasinya di ruang digital. Pertama, yaitu untuk tidak menyebarkan informasi pribadinya seperti foto KTP, kartu keuangan, hingga password sosial media kepada siapapun. Kedua, usahakan untuk menghindari log in pada aplikasi atau website yang mencurigakan, karena dikhawatirkan data akan dimanfaatkan oleh hacker untuk tindak kejahatan. Terakhir adalah untuk meningkatakan literasi digital mengenai kejahatan di ruang digital serta cara menanganinya.  Data pribadi individu merupakan hal yang penting dan termasuk kedalam hak asasi manusia, sehingga hal tersebut perlu dilindungi.

Sama seperti apa yang dikatakan oleh bapak H. Anton Sukartono Suratto, M.Si, Dirjen Aptika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan, B.Sc, mengatakan jika di era transformasi digital, terjadi peningkatan risiko dalam penggunaan internet seperti hoax, cyberbullying, dan penipuan digital. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya indeks literasi digital masyarakat Indonesia. Maka dari itu, peningkatan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas literasi digital agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna. Peningkatan literasi digital tersebut merupakan tugas yang besar, sehingga diperlukan dukungan dari segala pihak agar dapat meningkatkan literasi digital dan terciptanya talenta digital yang siap mewujudkan Indonesia Digital Asian.

KRMT Roy Suryo, sebagai pemateri kedua dalam webinar ini mengatakan jika individu sebagai pengguna media digital, tidak boleh memberikan dan mempercayakan data pribadinya kepada orang lain.  Pada era society 5.0, semua data di dalam dunia digital terkumpul menjadi big data. Era transformasi ini membawa perubahan besar dalam tatanan kehidupan manusia. Era ini membawa peluang baru untuk membangun dan memperbaiki pendidikan, bisnis, layanan pemerintahan, dan demokrasi. Walaupun begitu, kemajuan teknologi informasi perlu diimbangi dengan tersedianya perangkat legal untuk mencegah news crimes, frauds, dan negative externalities. Penipuan di dunia digital sendiri, sudah memiliki banyak bentuk sehingga sangat mudah bagi individu untuk tertipu apabila tidak berhati-hari. Beberapa contoh penipuan di media sosial antara lain penipuan dengan modus menggunakan alat pembayaran seperti kartu kredit dan kartu debit pada saat berbelanja di internet, penipuan menggunakan kedok permainan, penipuan dengan kedok penawaran transaksi bisnis, dan penipuan dengan mengatasnamakan layanan pemerintah seperti pajak. Maka dari itu, dalam menggunakan media digital, setiap pengguna harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai cara menjaga privasi di dunia digital.  KRMT Roy Suryo kemudian memberikan beberapa solusi untuk menjaga keamanan di dunia digital yaitu menggunakan password yang baik dan diganti secara periodik, menggunakan password yang berbeda pada setiap akun media sosial, tidak online terus menerus, dan tidak mengunduh sesuatu dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Dengan menerapkan hal tersebut, diharapkan individu mampu menggunakan internet dengan lebih aman dan terhindar dari kejahatan di dunia digital.(fh)