Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto, mengatakan jika saat ini media sosial sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Penggunaan media sosial akan menjadi sangat efektif apabila digunakan untuk menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Namun, informasi yang disebar di media sosial dilihat sebagai mata pisau, yaitu berisikan informasi yang negatif dan informasi yang positif. Maka dari itu, beliau mengatakan jika alangkah baiknya jika masyarakat belajar untuk menggunakan media sosial dengan sebaik-baiknya.

Menurut Dirjen Aptika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan, peningkatan penggunaan media sosial tersebut menunjukan perubahan era transformasi digital. Survey yang dilakukan oleh we are social pada tahun 2022 menunjukan jika pengguna sosial media di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 2.1 juta, menjadi sebesar 204,7 juta pengguna, dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat terus setiap tahunnya. Namun peningkatan teknologi ini tidak luput dari peningkatan resiko, misalnya hoax, cyberbullying, dan penipuan digital. Di Indonesia sendiri, indeks literasi digital masih pada angka 3,49 dari skala 5 sehingga masih dalam kategori sedang. Maka dari itu, peningkatan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas literasi digital agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna. Beliau mengatakan bahwa Kominfo menerima mandat dari Presiden Joko Widodo, untuk menjadi garda terdepan dalam memimpin percepatan transformasi digital bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan dalam mengembangkan sumber daya manusia digital, Kominfo bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital serta mitra dan jejaringnya, memberikan pelatihan digital untuk mengajarkan literasi digital kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pada tahun 2021, program literasi digital sudah berhasil menjangkau lebih dari 515 kabupaten kota di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Namun peningkatan literasi digital tersebut merupakan tugas yang besar, sehingga diperlukan dukungan dari segala pihak agar dapat meningkatkan literasi digital dan terciptanya talenta digital yang siap mewujudkan Indonesia Digital Asian.

Pendakwah Surya Atmaja, sebagai pemateri kedua dalam webinar kali ini mengatakan jika salah satu kebaikan yang bisa dilakukan melalui sosial media adalah berdakwah. Berdakwah sendiri merupakan metode dalam mengajak orang lain untuk melakukan amalan baik. Dakwah bertujuan untuk mewujudkan dakwah Islam yang yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang santun. Di era digital, berdakwah tidak hanya dapat dilakukan di tempat ibadah, tetapi bisa juga dilakukan di media sosial. Selain dengan akses yang mudah, isi dakwah pun dapat menjadi lebih kreatif dan dinikmati oleh semua kalangan. Beliau kemudian menjelaskan tiga tujuan dari berdakwah di sosial media. Pertama, berdakwah di sosial media dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kondisi kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara yang baik untuk menuju masyarakat yang berkualitas di kehidupan nyata dan sosial media. Kemudian, berdakwah di sosial media bertujuan untuk membentuk umat yang mengedepankan akhlak al-karimah yang mengutamakan silaturahmi melalui sosial media. Terakhir, berdakwah di sosial media bertujuan untuk membentuk umat yang mengedepankan nilai-nilai ajaran agama islam yang damai dan memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Dalam berdakwah, baik di dunia nyata maupun di sosial media, terdapat prinsip yang harus dipenuhi agar dakwah tersebut terlaksana dengan baik dan sesuai dengan tujuannya. Pemateri menyebutkan terdapat empat prinsip dalam berdakwah. Pertama adalah melakukan dakwah dengan membina, bukannya menghina. Dalam berdakwah, individu tidak boleh merasa dirinya lebih baik dari orang lain sehingga menghina individu atau kelompok lain, karena Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menghina orang lain.  Prinsip kedua adalah mendidik, bukan membidik. Dakwah harus dilakukan dengan cara mendidik dengan memberikan pengetahuan kepada orang lain. Prinsip ketiga adalah merangkul bukan memukul. Prinsip keempat dari berdakwah adalah ramah bukan marah-marah. Maksudnya adalah, dakwah dilakukan dengan ramah, tidak dengan emosi atau marah-marah kepada orang lain. Prinsip terakhir adalah mengajak bukan mengejek. Berdakwah dilakukan dengan cara mengajak kepada orang lain untuk berbuat baik.

Terakhir, dalam berdakwah di sosial media, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar dakwah tersebut tersampaikan dengan baik dan sesuai dengan syariat agama Islam. Dalam berdakwah, seseorang harus mengedepankan etika, yakni ramah, santun, dan mempertimbangkan manfaat serta dampak dari segala ketikan dan ucapannya. Selanjutnya, diharap untuk dapat bijak dan menghindari kata-kata yang mengandung ujaran kebencian. Penting pula untuk tidak menyebarkan berita hoax atau berita palsu, dimana hal tersebut dapat meresahkan umat sebelum melakukan Tabayyun. Selanjutnya, dalam menyampaikan dakwah, kata-kata yang disampaikan perlu diperhatikan dengan baik agar tidak menyinggung dan menghina keyakinan orang lain. Dalam menyampaikan dakwah pun, harus singkat dan jelas serta berasal dari sumber yang sahih. Terakhir, perlu untuk menghindari dakwah yang bersifat ancaman dan pencemaran nama baik orang lain, terutama yang mengandung unsur SARA.

Dengan demikian, sosial media dapat digunakan sebagai sarana penyebaran dakwah sehingga dakwah tidak terbatas hanya di tempat ibadah atau tempat umum. Namun tentunya dalam berdakwah di sosial media, perlu diperhatikan kembali prinsip dan etika ketika berdakwah di sosial media, agar dakwah yang dilakukan dapat tersampaikan dengan baik sesuai dengan syariat agama Islam.