Generasi muda saat ini harus tetap melestarikan budaya, upaya itu dilakukan agar budaya yang dimiliki oleh Indonesia tidaklah punah ditelan oleh waktu. Seperti saat ini, salah satu cara untuk melestarikan budaya Indonesia adalah dengan memanfaatkannya menggunakan media sosial. Kebutuhan Media sosial yang kini semakin meningkat, juga dapat dilihat menjadi salah satu alat instan yang dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun, sehingga mampu menjangkau khalayak luas dengan lebih cepat.

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto mengungkapkan, Fenomena media sosial ini dapat menimbulkan efek imajinatif yang baik jika kita memanfaatkannya dengan baik pula. Sebab menurutnya, dengan memanfaatkan sosial media ini maka kebudayaan Indonesia dapat dilihat dengan cepat oleh siapapun dan dimanapun. Seperti kita ketahui, Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dan kekayaan bahasa yang sangat banyak, dari Sabang sampai Merauke, oleh karena itu, Indonesia juga dapat menjadi salah satu destinasi wisata andalan melalui peran sosial media ini.

Selanjutnya, Dirjen Aptika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan, B.Sc, mengatakan berkembangnya teknologi yang semakin pesat menunjukan bahwa saat ini manusia, khususnya masyarakat Indonesia, sedang berada di era percepatan transformasi digital. Menurut survey dari we are social pada tahun 2022, pengguna sosial media di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 2.1 juta, menjadi sebesar 204,7 juta pengguna, dan angka tersebut akan meningkat terus setiap tahunnya. Namun, peningkatan teknologi digital ini juga membawa beberapa resiko, salah satunya adalah hoax dan penipuan, sehingga perlu diimbangi dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna. Di Indonesia sendiri, indeks literasi digital masih pada angka 3,49 dari skala 5 sehingga masih dalam kategori sedang.

Indeks literasi digital masih perlu untuk terus ditingkatkan, dan ini merupakan tugas bersama untuk meningkatkan literasi digital agar dapat menghadapi era transformasi digital. Kominfo sendiri memiliki program literasi digital yang sudah berhasil menjangkau lebih dari 515 kabupaten kota di seluruh Indonesia. Namun peningkatan literasi digital tersebut merupakan tugas yang besar, sehingga diperlukan dukungan dari segala pihak agar dapat meningkatkan literasi digital yang kemudian dapat menghasilkan talenta digital.

Terakhir, Asep Murdana, S.Th.I, C.ht, Pimpinan Ponpes Raudhatul Ilmi Bojongkulur, sebagai pemateri pada webinar kali ini menyampaikan jika budaya daerah merupakan aset negara yang harus dijaga, terutama dengan berkembangnya media sosial sehingga budaya dapat dikenal oleh siapapun. Beliau menjelaskan jika budaya sendiri adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia, sehingga sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, media sosial yang sudah menjadi bagian dalam keseharian masyarakat, dapat menjadi cara untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya untuk mencegah budaya yang dimiliki menjadi rusak dan musnah. Beberapa cara untuk dapat membagikan budaya yang dimiliki, seperti berbagi pengetahuan tentang makanan, adat, musik, pakaian adat dan  hal lainnya di media sosial, agar budaya tersebut dapat diketahui oleh lebih banyak orang. Dengan menjaga dan melestarikan budaya, hal tersebut dapat menjadi salah satu cara kita untuk menunjukan cinta kepada bangsa Indonesia dan kepada budaya yang dimiliki oleh negara Indonesia.