Bicara tentang musik, mungkin bagi sebagian orang akan menilai musik adalah sebuah hobi atau karir hidup. Namun bagi sebagian orang lainnya akan  menilai musik adalah elemen penting dalam hidup mereka, sampai-sampai mampu menolong mood yang sedang mereka alami, bisa menjadi teman bermain bagi sebagian orang. Jadi enggak kebayang, kalau musik itu tiba-tiba dilarang, bisa-bisa kehidupan bisa mati juga ya. Lho?

Sampai sekarang musik telah berkembang dengan beragam jenis dan telah menciptakan berbagai jenis pendengar. Untuk selera musik, setiap orang tidak bisa dipaksakan. Zaman sekarang orang telah mulai idealis terhadap musik, musik yang kita anggap bagus bisa saja menjadi musik yang “receh” bagi sebagian orang. hhmmm?

Ayo jujur, pasti anda pernah mengalaminya. Dimana ada orang yang akan selalu mengusik kecintaan terhadap jenis musik yang anda sukai dan si penantang akan membanding-bandingkan konsep musik yang ia jiwai pula. Perdebatan tidak dapat anda hindari, anda akan terpancing dengan perdebatan itu.

Ideologi versus ideologi bukan? Nah, itu hanya satu sama lain, tapi coba bayangkan suatu komunitas pecinta musik memiliki jutaan anggota di pelosok dunia, menganggap salah satu jenis musik orang lain “recehan” yang juga memiliki jutaan penikmatnya, apa yang bakal terjadi? mungkin, istilah sebuah negara akan runtuh pula karena hanya perdebatan sebuah “Pengakuan”. Wah bukannya musik itu bahasa universal ya? bahasa yang mampu menyatukan sebagian pecinta musik di belahan dunia manapun itu tujuannya bukan.

Pada dasarnya, enggak ada musik yang jelek atau “receh”. Semua musik itu bagus dan layak didengarkan, tapi balik ke pendengarnya itu sendiri. orang enggak bisa dipaksakan untuk urusan jenis musik, sikap idealis itu sendiri lah yang udah membuat orang kekeh pada jenis musik yang disukainya.

Nah sebagai kasus, di beberapa kota-kota besar yang ada di Indonesia, tak jarang pula karena sikap idealis terhadap musik, membuat EO (pihak penyelenggara) menjadi korbannya. Mereka harus mengalami kerugian akibat konser yang digelar, sepi penonton. Cuma hanya karena kebanyakan menilai kurang mengetahui siapa yang konser, dan menganggap sebagai pengisi panggung tidak memiliki lagu yang enak berdasarakan kemauan si penantang.

Seperti yang aku alami, saat itu sengaja hadir di konser Efek Rumah Kaca di Medan, yang pada dasarnya menurut diri pribadi merupakan band “cerdas” dan mempunyai lagu dengan komposisi musik dan lirik mumpuni, dengan anggapan bakalan meriah dan dipadati penonton. Namun perkiraan salah, konser sepi penonton. Hanya diwakili oleh sebagian kecil pecinta musik di Medan. Nah ini kenapa ya?menggelitik.

Yah, sikap idealis yang muncul sudah membuat sebagian orang berhasil memilih mana yang harus didengar mana yang harus dibuang. Memang enggak ada yang bisa disalahkan memiliki perspektif itu, karena bagaimana pun pendengar adalah juri yang sebenarnya dalam dunia musik. Anggapan musik adalah bahasa universal? belum berani untuk Aku ungkapkan.

Oleh: Dimas wahyu arahman