BARA JENDAWA
Episode 2

 

Sudah sekitar enam jam perjalanan dibus ini, tapi belum juga ada tanda-tanda aku akan sampai di kampung Tuijan. Didalam bus aku memandang keluar jendela, kulihat ada beberapa rumah kecil yang jauh dari jalanan, hanya lampu-lampunya saja yang terlihat, entah mengapa mereka bisa hidup jauh dari keramaian seperti ini. Lalu aku tersadar, aku juga bukanlah orang kota, aku masih tinggal di desa yang terpencil. Memang sifat manusia begini, tak ada puasnya.

Ah, aku kesal dengan diriku sendiri.

Kenapa aku tak dapat memejamkan mata juga. Kuelus-elus lenganku untuk menghilangkan sedikit hawa dingin yang masuk melalui jendela. Bosan sekali rasanya berjam-jam ada didalam bus seperti ini. Aku melihat disekelilingku, beberapa penumpang dalam keadaan tidur cukup nyenyak, ada juga yang sedang menepuk-nepuk badan anaknya agar tidur semakin pulas.

Tak lama aku teringat, kalau aku masih menyimpan beberapa batang rokok Dji Sam Soe yang sudah bengkok karena terhimpit celana jeans ku. Kucoba untuk mengurut perlahan rokokku berharapbisa kembali kebentuk semula, meskipun hal itu sangat kecil kemungkinannya. Aku masih sibuk dengan rokok ditanganku, masih juga mengurutnya. Berharap jauh lebih nikmat nanti ku hisap, mudah-mudahan membantu agar aku tenang menikmati perjalanan.

Aku resah selama perjalanan ini, entah mengapa. Mungkin karena aku belum mengirim surat kepada Tuijan kalau aku ingin kerumahnya. Semoga saja dia masih di kampung itu. Kalaulah dia sudah pergi dari kampung itu, sungguh kecewa diriku yang sudah jauh-jauh datang kesini. Bahkan, ongkos untuk kembali ke kampung pun tak punya.

Gelandangan, didepan mataku.

Sekitar dua jam perjalanan akhirnya aku pun melihat tugu kampung Tuijan.

Ah, ini dia kampungnya, pasti ini.

Ku tanya kepada penumpang yang ada disebelahku, ternyata tidak, ini masih di kampung sebelah. Kampung Tuijan ternyata satu jam lagi.

Bangsat! dalam hatiku.

Perutku sudah lumayan kosong, terakhir kali aku makan hanya dua buah roti ditambah segelas teh.

Tak lama berselang, akhirnya sampailah aku di kampung Tuijan. Aku tak langsung kerumahnya, tak enak menurutku mengganggu dia dijam tiga subuh ini. Kulihat ada beberapa peron yang lumayan sunyi,

Ah disini saja sudah lumayan, jam enam pagi nanti aku akan berangkat kerumah Tuijan, bisikku dalam hati.

Aku tak tidur, aku hanya melihat ke langit-langit peron ini, kebetulan. Terminal dan Stasiun Kereta Api berdekatan, yang kulihat hanya sawang-sawang dan jaring laba-laba.

Adzan subuh berkumandang, aku berjalan pelan menuju kampung Tuijan. Pelan-pelan kuingat jalan menuju rumahnya. Yang kuingat, kampung Tuijan pintu masuknya adalah dua pohon Roda yang besar, yang berumur ratusan tahun, itu saja patokanku. Sekitar sepuluh kilometer aku berjalan, aku juga tak tau mau apa aku bertemu dengan Tuijan, semoga kehidupanku semakin baik dan semoga Tuijan mau mengajariku ilmu bela diri. Senyum kecil merekah dimuka ku.

Ini dia pohonnya! aku senang.

Artinya sebentar lagi rumah Tuijan akan aku temukan. Seingatku, rumah Tuijan banyak pohon keladi liar dan dua pohon nangka yang bersebrangan, itu saja patokanku. Satu persatu rumah kuperhatikan. Aku tersenyum lagi,

Ini dia rumahnya!

Kulihat seorang ibu sedang menyapu halaman sambil membungkukkan badannya. Tak fikir panjang, langsung kutanya,

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam,” jawab ibu tersebut.

Lalu ku tersenyum ramah, “Bu, benar ini rumah Tuijan?”

“Benar, kamu siapa?”

Tergesa-gesa ku katakan aku adalah teman kecil Tuijan.

“Tuijan ada, Bu?”

“Tuijan belum pulang, dia masih bekerja. Dia bekerja di tambak udang, malam dia bekerja, pagi dia baru pulang. Astaghfirulah! Ayo nak, masuk dulu saya lupa mempersilahkan.”

Aku bertanya-tanya, siapa wanita ini? Ibu Tuijan tak seperti ini, aku tau sekali bagaimana wajah ibu Tuijan.

Aku dipersilahkan duduk di teras. Kulihat ayam-ayam mulai mencari makan, matahari tepat bersinar didepan mataku. Rumah ini selayaknya rumah di kampung. Setengah semen setengah lagi kayu. Persis seperti di rumahku. Sudah kulihat asap mulai mengepul dari dapur masing-masing rumah. Itu artinya warga di sini sudah siap buat bekerja.

Tak lama ku melamun, Ibu yang bersamaku tadi keluar membawakan segelas teh.

“Diminum dulu, Nak”

“Iya Bu, terima kasih.” diringi senyumku yang masih sedikit kaku.

“Kalau ibu boleh tau, siapa namamu?”

“Maaf bu, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Bara, Bu”

“Bara? Saya pernah mendengar Tuijan menyebut nama itu,”

“Kapan, Bu?” tanyaku heran,

“Semalam. Dia tiba-tiba berkata, ‘Bara mau datang,’lalu saya tanya, ‘siapa Bara?’ ‘kawan lamaku’begitu katanya.”Cerita Ibu yang ada di rumah Bara.

Seketika jantungku berdegup cukup kencang, bagaimana dia tau kalau aku bakal datang?

Setengah jam sudah aku ngobrol panjang lebar dengan ibu ini, sampai sekarang aku belum berani bertanya siapa namanya, dia juga tak mengenalkan namanya. Sambil memberi makan ayam, dia bercerita kalau Tuijan sekarang jauh berubah. Dulu dia adalah pemuda yang sering buat onar di kampung ini, setiap sore setelah bermain bola, pasti ada saja orang tua yang mengantar anaknya untuk menemui Tuijan minta ganti rugi biaya perobatan.

Ah anak itu memang jagoan.

Tak lama berselang, muncul sebuah sepeda motor yang cukup busuk berhenti di rumah ini.

Tuijan dating!

Dengan tak mengucap sepatah kata pun, dia langsung masuk kedalam rumah. Ingin kususul, tapi aku tak ada nyali. Tak lama dia keluar, memandangku cukup lama, entah mengapa aku takut, hanya sepatah kata yang dia katakan,

“Bara….”

 

 

Bersambung…