BARA JENDAWA

Episode 4

Satu hal yang aku suka berada di sini adalah ketika malam hari tiba, desa ini tidak seperti kebanyakan desa biasanya. Sama seperti desaku, tempat dimana aku dibesarkan dengan cara yang membuatku semakin muak dengan tingkah laku masyarakatnya. Tidak seperti desa yang lain, disini aku bisa mendapatkan ketenangan. Selepas adzan maghrib, orang tua disini langsung menyalakan lampu penerangan, lalu mengajari anak-anak mereka mengaji, ditambah lagi dengan hiburan-hiburan seperti suara jangkrik dan stasiun radio memutarkan lagu-lagu dangdut maupun lagu-lagu nostalgia. Harum tungku yang sudah padam masih menyisakan asap yang sesekali keluar dari sisa kayu yang sudah habis dibakar.

Pelan-pelan kuremas surat yang baru saja tiba dari kampungku, surat yang berisi kabar duka. Tetapi aku merasakan lega, ntah lega yang bagaimana yang kurasakan. Sesuatu yang berat kini sudah kembali hilang. Rasa senang, aku rasa tidak, sedih juga tidak, biasa saja. Ya, walaupun aku tau peran mereka dalam membesarkan seorang anak seperti Bara Jendawa ini tidaklah mudah. Berulang kali ku buka surat itu, lalu ku tutup kembali, begitu seterusnya sampai aku tersadar kalau ini kejadian nyata. Masih tak percaya kubuka lagi, dan akhirnya aku yakin dengan tulisan yang aku tau persis ini tulisan siapa. Ya, ini tulisan ayah, 

“Bara ibumu sudah meninggal dua hari yang lalu, kau pergilah saja kemanapun kau mau, tak perlu kembali.” 

Kuremas kembali surat yang sudah ku genggam sambil ku berkata dalam hati, semoga ibu tenang.

Aku tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Buatku, untuk apa menangisi orang yang sudah mati, hidup lagi juga tidak mungkin, lebih baik mendoakannya saja. Sama seperti doaku yang sudah beberapa hari ini aku panjatkan, doa yang ingin sekali dikabulkan, aku berdoa agar Tuijan mau mengajariku ilmu bela diri. Benar saja, hari ini doaku terkabul! 

Tuijan mau mengajariku ilmu bela diri, salah satunya diawali dengan berenang disungai. Setiap hari aku disuruhnya berenang di sungai agar aku giat latihan nantinya. Orang bodoh mana yang berlatih ilmu bela diri malah disuruh berenang disungai? Tapi ya, tak menjadi masalah. Menurutku yang penting adalah aku diajarinya ilmu bela diri, bahkan kalau dia menyuruh aku berkelahi satu lawan satu menghadapi kerbau pun, akan aku lakukan. 

“Aku lelah,”

“Ya begitulah latihan bela diri.” Sambung Tuijan.

“Bela diri yang bagaimana menurutmu? Sudah dua hari kau menyuruhku berenang di sungai terus menerus.”

“Itulah latihan, ”

“Aku mau bela diri Tuijan, bukan menjadi nelayan”

“Lihat badanmu!”

Sambil melihat badanku yang tampak biasa saja, aku semakin heran.

Apa yang di maksud kawan aku ini hanya melihat badanku saja?

“Badanmu sekarang jauh lebih kekar daripada sebelumnya, kalau kau mau berlatih bela diri, rawat dulu fisikmu.”

“Setelah itu?”

“Setelah itu akan kulatih bela diri,”

Di pinggir sungai yang tenang sekarang aku tersadar apa yang dilakukan kawanku ini ada benarnya juga. Setelah tiga minggu hanya berenang saja disungai, akhirnya hari ini aku diajari bela diri oleh Tuijan. Mulai dari langkah menyerang, kuda-kuda, pukulan-pukulan, sampai bertahan menghadapi serangan. Yang aku heran selama aku berlatih di halaman rumah Tuijan ini, mataku liar mengawasi sekeliling. Banyak sekali pandangan-pandangan yang aneh yang ditujukan kepadaku. Sempat aku bertanya kepada Tuijan akan hal ini, Tuijan hanya diam saja tak mau menjawab, ntah apa yang disembunyikan desa ini, ntah apa yang di fikirkan warga disini kepadaku. Mungkin karena aku orang baru disini.

Seperti biasa, setiap rabu malam kamis ada pagelaran wayang di pendopo desa. Setiap minggu kami tak pernah absen untuk menonton wayang, sampai larut malam aku dan Tuijan pulang dengan menenteng kacang kulit dan kopi dimasukkan kedalam kantong plastik. Ditengah jalan aku mencoba bertanya dan mencoba membuka obrolan dengan Tuijan, sambil membakar rokok yang sudah kami beli dari awal pergi nonton wayang.

“Kau masih dendam?” Tanyaku berhati-hati.

“Kepada?”

Tuijan mulai penasaran dengan pertanyaanku

“Mata Lentera,”

Seketika pandangan Tuijan berbeda, ada sesuatu yang tak bisa dia ucapkan dan nafasnya langsung tersengal-sengal sekaligus terburu-buru.

“Masih, sampai detik ini.”

“Kubantu kau untuk balas dendam.”

“Tak perlu, aku sendiri juga bisa. Kau masih belum hebat Bara, nanti kau mati!”

“Oh ya? Mari kita uji. Didepan kita ada tiga orang pemuda seumuran kita. Aku akan menantang mereka satu persatu,”

Tuijan hanya mempersilahkan aku dengan tangannya seperti seorang pelayan memberikan makanan kepada Tuannya.

“Semoga berhasil!”

Aku hanya menoleh dan tersenyum simpul yang ragu, seandainya aku kalah bagaimana? Seandainya aku mati bagaimana? Tuijan bodoh ini apa mungkin menolongku?

Dengan nyali seadanya dan kemampuan seadanya, aku mencoba mendekati mereka yang jaraknya lumayan jauh, tanpa pikir panjang langsung kupanggil mereka.

“Woy! Yang bertiga!” Panggilku.

Mereka langsung menoleh kebingungan merasa ada yang memanggil, satu diantara mereka bertanya dengan nada yang lumayan tinggi.

“Mau apa? Siapa kau?!”

Kupercepat langkahku sambil sedikit berteriak, “Kalian bertiga anjing! Kalau berani lawan aku!”

Ku kira meraka bakal lari atau menghindar, ternyata mereka malah berlari sambil mendekatiku. Kulihat Tuijan hanya jongkok sambil makan kacang dan sesekali menyeruput kopinya. Dengan rokok ditangan kirinya, lalu ia tersenyum manis.

“Anak bangsat!

Bersambung…

Bara Jendawa Eps 1

Bara Jendawa Eps 2

Bara Jendawa Eps 3