BARA JENDAWA
Episode 3

 

“Kau sudah lama sampai?”

Sambil melepaskan pelukanku, senyuman merekah dari bibir Tuijan, tampaknya dia rindu juga denganku, akupun begitu.

“Belum, baru saja. Teh juga masih hangat.”

“Baiklah, bagaimana kabar kedua orang tua mu, Bara? Sehat?”

“Syukurnya mereka sehat, aku berharap mereka sakit parah lalu mati.”

Tuijan tertawa dengan sangat keras, ntah maksud mengejek atau bagaimana aku tak tau.

“Ibu yang di dalam itu siapamu?”

“Jangan kau pikir macam-macam, aku juga tak tau kenapa aku bisa sampai sini, mau ku ceritakan?”

Aku mengangguk sambil menyeruput teh yang sudah disediakan, sambil menunggu Tuijan bercerita. Aku akan menceritakan apa yang Tuijan ceritakan, tak ada aku tambah dan aku kurangi.

Malam dingin tak membuat laju dokar yang Tuijan naiki berhenti, tak ada kata berhenti. Tuijan hanya terus berjalan dan terus berjalan entah kemana. Tuijan kecil dan kedua orang tuanya berlari menghindari Komboy¹. Mereka berlari menghindari kejaran Komboy, akibat tak membayar upeti yang sudah dijanjikan setiap bulannya, begitu kata orang tuanya. Dengan dokar² kesayangan bapaknya, Tuijan kecil tertidur-tidur ayam. Terkadang karena cuaca yang begitu dingin, Tuijan terbangun hanya sekedar untuk menarik selimut yang agak sedikit turun sampai ke dengkul.

¹Seorang penguasa di kampung Tuijan.
²Istilah lain dari delman, kendaraan transportasi tradisional yang beroda dua, tiga atau empat yang tidak menggunakan mesin tetapi menggunakan kuda atau keledai sebagai penggantinya.

Bapaknya yang khawatir kejaran Komboy, liar matanya melihat ke kanan dan kiri takut suatu saat anggota Komboy menghentikan dokar mereka lalu menyergap. Alih-alih menyergap, dibunuh, dicincang dan mungkin potongan tubuh mereka akan diberikan untuk makanan anjing. Tampak ibu Tuijan yang dari tadi mengais-ngais sayur kangkung, yang sudah ntah berapa kali mereka makan dalam beberapa hari ini. Tak hanya basi, sayur kangkung ini juga sudah mengeluarkan bau yang tidak sedap, sampai bak dokar yang kami naiki ini dikuasai aroma kangkung basi ini. Melihat kangkung yang sudah basi tetapi masih juga dimakan, seperti ada kupu-kupu yang ingin keluar dari perutku, menjijikkan sekaligus miris mendengarnya.

Tuijan yang masih kecil, belum mengerti apa itu upah dan upeti. Setahu dia, ketika anggota Komboy datang, ibu dan bapaknya pasti dipukul atau dicambuk dengan cambuk yang terbuat dari ujung ekor buaya sampai meringis kesakitan. Kalau sudah dicambuk, itu artinya bapak dan ibunya terlambat membayarkan upeti sampai beberapa hari. Luka bekas cambukan terus mengeluarkan nanah, karena tak kunjung kering.

Bangsat memang Komboy itu, berani-beraninya dia memperlakukan orangtuaku seperti itu. Lihat saja aku dewasa nanti, kepalanya ada di kakiku dan akan disaksikan semua warga kampung dan kroco-kroconya itu! 

Ntah tinggal didaerah mana pun Tuijan kecil, dia tak tau pasti. Yang jelas, beberapa kali bapaknya menyuruh mereka turun dulu karena akan menyebrangi sungai. Pohon-pohon yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi, begitu angkuh menurutnya untuk saat itu, seakan-akan selalu mengawasi mereka. Beberapa kali dokar mereka berhenti ketika terdengar suara auman harimau. Kata bapaknya, perjalanan jangan dilanjutkan, tunggu sekitar satu atau dua jam lagi, baru kembali melanjutkan perjalanan. Harimau di masa kami sangat di agungkan memang, ntahlah. Katanya itu adalah penjaga diri manusia, setiap manusia punya harimaunya sendiri.

 

Matahari mulai malu-malu menampakkan diri. Ibunya yang daritadi memeluknya dengan hangat mulai menunjukkan senyumannya. Dipeluknya Tuijan beberapa kali, dengan kata-kata penghibur, sebentar lagi kita sampai. Tuijan kecil bodoh ini tak percaya, dijawabnya dengan anggukkan kepala saja. 

Senyuman ibunya hanya beberapa detik saja sebelum anak panah menembus kepalanya. Terlihat tiga orang pemuda dengan pakaian serba merah, dan penutup mulut yang terbuat dari tenunan yang Tuijan tau asalnya darimana, tetapi karena ketakutan, itu tak dipikirkannya lagi. Dokar yang mereka tumpangi berhasil diberhentikan tiga pemuda tersebut. Begitu keledai-keledai menapakkan kaki untuk memperkokoh berdiri, disaat itulah seorang pemuda yang berbadan jauh lebih kecil menggorok leher bapak Tuijan dengan sebuah golok tajam. Bapaknya terkapar tak berdaya dengan mata yang sedikit terbuka, kulihat ada sedikit luka yang menganga menyembul keluar dari lehernya.

Bagaimana dengan Tuijan? Tuijan hanya duduk diam saja memandang kosong dengan apa yang baru dilihatnya. Satu persatu dilihatnya mata para pembunuh orang tuanya. Dengan sangat dalam dilihatnya mata-mata itu, dan sampai sekarang dia ingat. Sampai mati, sampai dia mati akan selalu diingatnya mata para pembunuh itu. Tuijan menjuluki mereka dengan mata lentera, bagus memang, tetapi tak ada rasa kasihan dari hitam kedua bola matanya.

Dokar dibawa oleh seorang dari mereka, mengantarkan Tuijan ntah kemana lagi. Sedangkan kedua orang lainnya memanggil kuda mereka dengan sekali siulan, mereka hilang dari balik kabut yang pelan-pelan hilang dimakan matahari. 

Sekitar tiga jam perjalanan barulah Tuijan sampai di kampung ini, Tuijan diturunkan tepat di depan pintu ini. Dengan rasa trauma yang masih dalam, Tuijan diserahkan kepada seorang ibu yang sekarang ini merawatnya. Mereka sedikit terlibat didalam suatu obrolan, lalu tak lama kemudian Tuijan kecil di ajak masuk dengan ibu ini. Sampai sekarang pun Tuijan tak tau siapa nama ibu ini, dia tak ingin memberi tau namanya siapa, itu janjinya kepada para pemuda mata lentera itu. Sampai sekarang, Tuijan dirawat ibu ini dengan baik tanpa ada marah sedikitpun, walau Tuijan pernah menghancurkan rahang anak kampung sebelah gara-gara kolor Tuijan disembunyikan sewaktu mandi sungai.

Satu persatu ku nikmati kata-kata yang keluar dari mulut Tuijan,

siapa tiga pemuda mata lentera ini, dan siapa ibu ini, dan mengapa Tuijan dititipkan kepada ibu ini, lalu mengapa orang tua Tuijan dibunuh sedangkan Tuijan tidak? lamunanku terpecah ketika kudengar ibu yang tinggal bersama Tuijan itu memanggil kami berdua.

“Tuijan, nak Bara, mari mandi dulu di sungai, lalu makan, ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kalian!”

Sambil berjalan, kukatakan dari dalam hati, luar biasa kehidupan kawanku ini, cobaan di dalam hidupku sendiri malu kuceritakan kepadanya.

 

Bersambung…

Bara Jendawa Eps 1

Bara Jendawa Eps 2