4 Maret 2017 lalu kapal yang hendak mengantarkan wisatawan untuk melakukan pengamatan burung di Waigeo menyebabkan kerusakan parah pada terumbu karang di perairan Raja Ampat.

Kerusakan terumbu karang ini diakibatkan oleh kapal pesiar MV Caledonian Sky  dari Inggris berbendera Bahama, Amerika Serikat (AS), dengan bobot 4.200 GT, yang terjebak di perairan dangkal Raja Ampat. Ditambah lagi dengan bobot 120 wisatawan dan 79 ABK yang semakin menyebabkan kandasnya seluruh biota laut yang ada didalamnya.

Berdasarkan data yang diterima oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), luas area yang rusak akibat kapal yang di nahkodai oleh Kapten Keith Michael Taylor ini mencapai 1.600 m². Sedangkan menurut klaim dari Menteri lingkungan hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya luas kerusakan terumbu karang mencapai 13.522 m². Namun, luas dari kesimpulan pendapat keduanya belum dapat dipastikan kebenarannya.

Menurut Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman – Arif Havas, kerugian yang diakibatkan kerusakan ini tidak hanya dari segi financial dan ekonomi saja.

“Faktornya banyak sekali kerugian aktual, kemudian biota yang mati, ekosistem di kawasan itu dan keanekaragaman hayati di kawasan itu (turut terdampak),” jelas Havas di kantor Kemenko Kemaritiman, Jumat, (17/3/2017).

Butuh waktu lama untuk mengembalikan bentuk  semula Raja Ampat. Bahkan, membutuhkan lebih dari 20 tahun untuk memperbaiki seluruh kerusakan. Sedangkan seminimalnya pertumbuhan terumbu karang hanya menunjukkan 5cm perkembangan per tahunnya.

Oleh: Nurul Hanayah