Jakarta – Pandemi COVID-19 dilihat meredam pertumbuhan berbagai sektor  terutama sektor ekonomi. Dr. Drs. Ismail Cawidu, M.Si, Tenaga Ahli Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, sebagai pemateri pertama pada webinar hari ini mengatakan walaupun banyak sektor yang menurun akibat pandemi COVID-19, Sektor Teknologi informasi dan komunikasi justru semakin kuat. Sektor teknologi informasi dan komunikasi menjadi penopang pertumbuhan  melalui ekonomi nasional melalui ekonomi digital. Hal ini diakibatkan oleh COVID-19 yang menyebabkan banyak kegiatan dilakukan dari rumah mulai dari bekerja, sekolah, hingga beribadah. Sehingga terjadi perubahan yang tadinya hidup secara manual menjadi hidup secara digital. Hal ini terbukti dari jumlah pengguna Internet di Indonesia yang mencapai jumlah 202,6 juta ( 73,7 %  dari jumlah penduduk), dan pengguna media sosial sebesar 170 juta  (3-4 jam perhari). Transformasi digital ini kemudian mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Ekonomi nasional saat ini berbentuk ekonomi digital Ekonomi digital sendiri merupakan pasar yang dibentuk oleh teknologi digital untuk memfasilitasi perdagangan barang dan jasa melalui e-commerce (OECD).

Pemerintah Indonesia sendiri memberikan arahan untuk mempercepat digitalisasi menggunakan pilar digital Indonesia, yang biasa dikenal dengan Indonesia Digital Nation. Indonesia Digital Nation berisikan tiga pilar yaitu pemerintahan digital, masyarakat digital, dan ekonomi digital. Ekonomi digital sendiri sudah memiliki garis besar arah Kebijakan Ekonomi Digital Indonesia, yaitu kebijakan perlindungan sumber daya manusia ekonomi digital dengan industri yg mem-PHK sebagai dampak pandemi, menyiapkan skema aturan baru untuk mengontrol ekspor dan impor, serta merubah tatanan dunia berbasis nilai tambah dan daya saing. Selain itu, terdapat 3 hal pokok dalam penciptaan iklim ekonomi digital yaitu penciptaan kedaulatan & kemandirian digital, penyiapan sumber daya manusia ekonomi digital, dan melaksanakan program pendukung ekonomi digital. Namun, ekonomi digital tidak luput dari tantangan yang harus dihadapi antara lain, (1) Penetrasi internet Indonesia masih dibawah negara ASEAN lain, (2) Rata-rata kecepatan internet Indonesia yang masih dibawah negara ASEAN, (3) Kualitas internet di seluruh Indonesia belum merata, (4) Lemahnya cyber security, (5) Talenta digital yang belum sesuai dengan kebutuhan industri, dan (6) UMKM digital yang sudah sampai taraf internasional masih di angka 9,4 juta dari total 60 juta UMKM. Maka dari itu, dibutuhkan ekosistem sebagai pendukung transformasi digital. Pemateri menyebutkan 6 ekosistem yang dapat mendukung transformasi digital yaitu, (1) Pembangunan infrastruktur TIK, (2) Meningkatkan sumber daya manusia digital, (3) Meningkatkan sarana pendukung TIK, (4) Membuat aplikasi sebagai produk kreatif, (5) Membuat konten sebagai ruh dari produk digital, dan (6) Membuat regulasi terkait dengan pemanfaatan internet di Indonesia.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., sebagai pemateri kedua pada webinar hari ini mengatakan bahwa transformasi digital merupakan komponen penting bagi ekonomi digital. Terutama, pandemi COVID-19 dilihat memberikan dampak besar pada perekonomian seluruh negara, termasuk Indonesia. Maka dari itu, pemerintah Indonesia berfokus untuk meningkatkan kembali ekonomi Indonesia, tidak hanya berharap bantuan dari luar negeri seperti ekspor dan impor, namun juga fokus pada pembangunan dalam negeri dengan tujuan untuk mendorong kembali kegiatan perekonomian mulai dari menghidupkan kembali daya beli masyarakat, meningkatkan konsumsi, dan memperbaiki kegiatan sektor riil. Beliau juga menyampaikan, jika salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendukung UMKM terutama menggunakan digitalisasi. Indonesia sendiri membutuhkan 9 juta talenta digital, karena di masa depan, banyak pekerjaan yang akan digantikan dan akan muncul banyak pekerjaan baru. Maka dari itu, perlu partisipasi generasi milenial, dimana generasi milenial berperan sebagai digital talent, pelaku usaha, dan potensi pasar luar negeri. Namun terdapat beberapa tantangan dalam mewujudkan transformasi digital dan ekonomi digital. Tantangan tersebut antara lain belum meratanya penggunaan internet di Indonesia. Maka dari itu, dilakukan beberapa strategi untuk mengatasi tantangan tersebut yaitu dengan meningkatkan infrastruktur TIK terutama di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar. Diharapkan strategi tersebut juga mampu meningkatkan sektor lain seperti ekonomi, pariwisata, kesehatan, dan pendidikan. Beberapa program yang dibuat oleh pemerintah untuk meningkatkan ekonomi digital antara lain UMKM go online, gerakan 1000 start-up digital, dan digital entrepreneurship academy. Diharapkan dengan mendorong ekonomi digital diharapkan mampu membantu pemulihan ekonomi Indonesia.

Samsul Widodo, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, sebagai pemateri ketiga pada webinar hari ini menyampaikan bahwa internet memiliki peran besar terhadap kegiatan ekonomi di Indonesia. Tahun 2020, terdapat 68,75% (185,34 juta jiwa) penduduk Indonesia berusia produktif (usia 15-64 tahun). Dengan tingginya angka usia produktif, hal ini juga mempengaruhi angka pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan survei APJII tahun 2021, pengguna internet di Indonesia mencapai angka 202,6 Juta (73,7% dari total populasi). Dengan adanya transformasi digital, muncullah triple disruptions yang mengancam kegiatan usaha. Triple disruption berisikan tiga hal yaitu digital disruptions, millennial disruptions, dan pandemic disruptions. triple disruptions memicu domino effect terpuruknya kegiatan usaha, dimana dengan adanya internet banyak usaha bisnis yang tidak mampu bertahan karena tidak bisa mengikuti transformasi digital. Maka dari itu, setiap orang dilihat harus mampu memanfaatkan internet dengan baik, salah satunya adalah dengan melakukan bisnis online. Jumlah penduduk Indonesia yang menggunakan aplikasi bisnis online sendiri sudah mencapai angka yang sangat tinggi, sebagai contoh Tokopedia memiliki angka pengguna sebesar 147,8 juta jiwa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan adanya transformasi digital, bisnis online mengalami peningkatan yang pesat dibandingkan sebelumnya. Kawasan desa pun memiliki banyak potensi untuk lebih maju. Menurut Rancangan Renstra Kementerian Desa PDTT, 61.821 desa (82,7%) memiliki potensi pertanian, 20.034 desa (26,8%) potensi perkebunan, 12.827 desa (17,1%) potensi perikanan, 7.275 desa (2,5%) potensi desa wisata, 64.587 desa potensi energi baru terbarukan, dan 1,59 juta unit bum desa, koperasi dan UMKM. Dengan adanya transformasi digital, potensi tersebut dapat dimaksimalkan sehingga desa bisa memiliki kemajuan yang lebih pesat dibandingkan sebelumnya.