Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama tiga tahun membuat transformasi digital berjalan lebih cepat. Transfer pengetahuan digital yang dahulu berjalan secara normal, saat ini mendapatkan akselerasi. Segala aktivitas seperti bekerja, belajar hingga beribadah dilakukan secara daring. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian KOMINFO mendukung transformasi digital melalui empat pilar; digital infrastructure, digital economy, digital government, dan digital society.

Dalam paparan Webinar hari ini terkait dengan bijak bermedia sosial, Wakil Ketua Komisi I dari Partai Demokrat, Anton Sukartono Suratto, mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital dalam 15 tahun kedepan, setara dengan 600.000 orang per tahun. Untuk mengembangkan kompetensi sumber daya manusia digital, presiden Joko Widodo telah melancarkan program literasi digital nasional yang bernama “Indonesia Makin Cakap Digital”.

Anton Sukartono, menjelaskan faktor-faktor literasi digital bagi masa depan ruang digital Indonesia ditentukan oleh tiga hal, yaitu tingginya tingkat penetrasi, teknologi komunikasi, dan informatika. Ketiga faktor ini berakibat pada meningkatnya sumber daya digital. Maka dari itu, setiap individu penting untuk memahami literasi digital yang dibutuhkan untuk berpartisipasi di dunia modern karena generasi yang tumbuh di era digital memiliki pola berpikir dengan generasi yang sebelumnya. Setiap orang hendaknya dapat bertanggung jawab bagaimana untuk menggunakan teknologi secara bijak, beretika, dan bertanggung jawab.

Dirjen APTIKA Kemkominfo, Samuel A Pangerapan, berpendapat bahwa kehadiran teknologi khususnya pada masa pandemi telah mengubah cara beraktivitas dan bekerja. Dalam kata sambutannya, beliau mengungkapkan bahwa salah satu aspek paling penting dalam pilar transformasi digital adalah menciptakan masyarakat digital dimana kemampuan literasi adalah salah satu komponen yang dapat mendukung pencapaian tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.  Kementerian KOMINFO bersama Siber Kreasi dan berbagai pemangku kepentingan terus berupaya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat Indonesia.

Aidil Pananrang, Direktur Eksekutif Matangasa Institute menyampaikan dalam data penemuan teknologi  bahwa era digital semakin pesat dan berkembang, ditandai dengan semakin singkatnya suatu teknologi dapat dipergunakan oleh 50 juta orang dalam kurun waktu tertentu. Sebagai contoh, penggunaan pesawat terbang membutuhkan 68 tahun untuk dapat digunakan oleh 50 juta orang, namun aplikasi digital Pokemon Go haya membutuhkan waktu 19 hari. Jika kita tidak beradaptasi, maka kita akan ketinggalan perkembangan teknologi tersebut. Namun, jika tidak digunakan dengan baik, teknologi juga dapat memberikan dampak yang negatif dalam kehidupan. Salah satu kasus yang seringkali terjadi adalah menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya hanya karena tersulut emosi.

Dalam penerimaan informasi, terkadang terjadi yang namanya confirmation bias dimana manusia cenderung hanya ingin menerima informasi yang sudah dipercaya dan menolak hal-hal yang tidak dipercaya. Agar bijak di sosial media, Aidil memberikan empat tahapan. Pertama, ketika menerima suatu berita, pentingnya untuk memverikasi berita tersebut karena cerita belum tentu fakta. Ketika sudah menemukan fakta, belum tentu itu fakta menjadi data sehingga perlu untuk mencari sample yang representatif. Kemudian, data belum tentu menjadi sebuah bukti karena bisa jadi kasus tersebut berlaku untuk kasus yang kontradiktif sehingga perlu melihat dari sisi yang lain. Terakhir, kasus tersebut belum tentu bisa digunakan secara universal. Sehingga sebagai kesimpulan, tips praktikal yang dapat dilakukan untuk bijak bermain sosial media adalah dengan selalu melakukan cek sudut pandang yang berbeda, sumber informasi, motivasi atas kebenaran berita tersebut, dan mendengarkan apa kata para ahli.