Bagi Anda pernah sesekali atau bahkan pembaca setia Webtoon “Terlalu Tampan”, mungkin pernah merasa penasaran siapa tokoh selalu hadir di akhir episode.
Pria mengenakan kemeja putih berpadupadan dengan dasi merah selalu menampilkan pose yang sama, membawa benda berwarna cokelat mirip baki makanan. Wajahnya diblur terkadang membuat pembaca menduga-duga siapa sosok itu.

Menyoal ini, sang empunya cerita yakni M. Ahmes Avisiena (penggagas ide) dan Savenia Melinda Sutrisno (ilustrator) akhirnya bersedia angkat bicara. “Orangnya ganteng, patut dicontoh,” ujar Avisiena, singkat dalam acara Line Creative Talk di Jakarta.

Seakan ingin tetap membiarkan pembaca menduga-duga, baik Avisiena maupun Savenia menambahkan kalau sosok itu sebenarnya telah muncul di episode-episode “Terlalu Tampan” yang telah terbit. “Sosoknya sudah ada (di episode-episode yang telah terbit),” kata keduanya, kompak. “Terlalu Tampan” mengisahkan sisi lain kehidupan para pria dan keluarganya memiliki paras tampan. Sebuah sisi menurut Avisiena unik dan berharap tak mudah ditebak pembaca.

M. Ahmes Avisiena, webtoonist “Terlalu Tampan” mengawali keberaniannya menjajal dunia komik digital lewat konsep menurutnya absurd, bagaimana bila orang Indonesia terlalu tampan dan reaksi mereka saat bertemu orang tampan.

Konsep yang muncul di tengah kegamangannya itu tak dia sangka mendapat perhatian sebagian pembaca tanah air bahkan hingga Thailand. Namun, seiring kepopuleran “Terlalu Tampan”, kritik pun muncul. Salah satunya menyoal ide cerita mirip komik buatan Korea “Family Over Flower”. Menyoal ini Avis pun angkat bicara.
“Awalnya masuk webtoon challenge. Sudah masuk episode ketiga baru baca komen yang menyangkut webtoon ‘Family Over Flower’. Sebenarnya saya enggak tahu ada webtoon itu,” ujar dia.

“Tetapi karena ada komen seperti itu akhirnya mencoba mencari, ternyata ada hal yang dasarnya itu sama. Tetapi terima kasih kepada pembaca, akhirnya saya mencoba mencari yang lain,” imbuh Avis.
Seakan ingin menambah rasa Indonesia dalam karyanya, Avis menggunakan nama-nama Indonesia untuk karakter-karakter dalam komiknya. “Di sana itu saya memasukkan unsur Indonesia dari nama-nama tersebut, makanya nama-namanya dari Indonesia,” kata dia.

Tak cuma itu, sebagian pembaca juga berkomentar ada muatan homoseks dalam komik Avis. Secara tegas dia menampik komentar miring itu. “Kok bisa Archewe (salah satu karakter dalam komik) suka sama perempuan yang ganteng. Lalu Bu Suk mengapa ganteng, pembaca komentar “Itu kok kayak homo”. Padahal kan salah, harusnya memandang seseorang dari hatinya,” jelas dia.
Ketika ditanya bagaimana awal mula idenya itu muncul, Avis memberi jawaban sederhana, semuanya berawal dari bengong. “Inspirasi, saya bengong. Saya buka-buka Instagram, nemu gambar kok ganteng. Di Instagram seperti ada akun fashion. Karena saya suka browsing akun seperti itu, saya cari, terus melihat satu sosok yang cakep. Hidupnya pasti enak. Saya mencoba melihat tampan dari sudut pandang lain,” kata dia.

Menyadari kemampuan menggambarnya yang “suram”, sementara ide-ide berlarian dalam otaknya, Avis memutuskan mencari ilustrator. Sebanyak 10 orang ia coba hubungi, namun baru pada sosok ke-11 lah, Savenia Melinda Sutrisno, barulah Avis menemukan kecocokan.

“Saat SMA ada teman saya sewaktu SD menawarkan ikut event Line, ayo dapat uang loh. Saya coba-coba ikutan. Enggak menang. Saya enggak kaget, karena saya kan pemula, wajar. Enggak lama, saya dihubungi pihak Line. Kok bisa jadi resmi. Saya bilang lagi ke teman saya yang dulu, tetapi dia enggak bisa karena ada tugas lain,” kata dia.
“Karena hal itu, saya mencoba mencari ilustrator yang lain. Saya mencari sekitar 11 orang saya chat. Akhirnya mbak Savenia mau,” ujar mahasiswa jurusan teknik itu.

Ketika dihubungi Avis, Savenia mengaku sempat ragu. Namun, kecintaanya pada dunia komik dan pertimbangan tawaran Avis, dia pun setuju bergabung. “Dia menghubungi saya lewat DM Instagram. Awalnya saya kira ini bohong, tapi saya menggunakan kekuatan intel wanita, oh ternyata dia pengarang beneran. Aku sempat mempertimbangkan juga, ambil enggak ya. Setelah berdiskusi bersama keluarga, akhirnya saya memutuskan untuk join,” kata mahasiswi jurusan desain komunikasi visual.

Tak mudah bagi Savenia menemukan style karakter sesuai permintaan Avis. Dia mengaku membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menyelami kebutuhan sang konseptor. “Saya sempat menebak-nebak, warna candaannya bagaimana. Sempat bingung berepisode-episode. Sampai akhirnya menangkap maunya dia seperti ini. Saya bisa hasilkan gambar yang dia maksud,” papar Savenia.
Beragam komik keluaran Jepang dan Korea menjadi bagian referensi Savenia dalam berkarya, terutama dari sisi ekspresi karakter.

(ant)