Jum’at, 8 April 2022 – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., mengatakan jika internet dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama dengan berlangsung era revolusi industri 4.0. Internet dan media sosial bukan lagi gaya hidup namun sudah menjadi kebutuhan hidup. Media sosial sendiri merupakan media daring dimana penggunanya dapat berpartisipasi dengan mudah, berinteraksi, dan berbagi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Bahkan saat ini sedang dikembangkan ekosistem dengan nama Metaverse Indonesia yang akan diperkenalkan pada presidensi G-20 Indonesia pada akhir tahun ini. Media sosial yang ada di Indonesia pun saat ini sudah tergabung kedalam Metaverse. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi tetapi juga dapat menunjang kegiatan ekonomi, bisnis, dan juga pembelajaran. Namun, penggunan media sosial yang tidak benar dapat menimbulkan dampak negatif bahkan kerugian bagi penggunanya. Saat ini ramai dengan istilah cybercrime atau kejahatan berbasis komputer. Cybercrime tersebut dapat dihindari dengan dua cara yaitu tindakan preventif atau pencegahan, dan menggunakan fitur-fitur keamanan yang dimiliki oleh media sosial. Setiap media sosial memberikan fitur keamanan bagi para penggunanya, misalnya seperti 2-factors authentication.  Walaupun begitu kejahatan media sosial memiliki banyak bentuk lain seperti penipuan online melalui telepon dan sms, sehingga setiap pengguna perlu memahami cara perlindungan diri di media sosial. Dengan begitu, setiap pengguna dapat menggunakan media sosial dengan aman.

Selanjutnya, Dirjen Aptika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan, mengatakan jika berkembangnya teknologi yang semakin pesat telah menunjukan jika kita sedang berada di era percepatan transformasi digital. Menurut survey dari we are social pada tahun 2022, pengguna sosial media di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 2.1 juta dan angka tersebut akan meningkat terus setiap tahunnya. Namun, peningkatan teknologi digital ini juga membawa beberapa resiko, salah satunya adalah hoax dan penipuan, sehingga perlu diimbangi dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna. Hal ini merupakan tugas kita bersama untuk meningkatkan literasi digital agar dapat menghadapi era transformasi digital. Peningkatan literasi digital merupakan tugas yang besar, sehingga diperlukan dukungan dari segala pihak agar dapat meningkatkan literasi digital yang kemudian dapat menghasilkan talenta digital yang siap mewujudkan Indonesia Digital Asian.

Lebih jauh lagi, Praktisi Keamanan Cyber, Belly Rachdianto, sebagai pemateri pada webinar ini menjelaskan mengenai metaverse dan keamanan di dunia digital. Metaverse sendiri dilihat sebagai masa depan dari internet. Dengan metaverse, pengguna tidak hanya menggunakan media sosial dan melihat internet secara dua dimensi atau tiga dimensi, tetapi pengguna akan masuk secara langsung kedalam metaverse. Pengguna bisa melakukan banyak kegiatan secara daring, seperti meeting, diwakili oleh avatar-avatar yang mewakili pengguna. Bahkan, di dalam metaverse terdapat ‘tanah’ yang dapat dibeli dengan harga yang mahal. Tempat-tempat tersebut lah yang nanti dapat dikunjungi oleh pengguna metaverse. Dengan berkembangnya metaverse, diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tapi dapat menjadi pengguna yang memanfaatkan metaverse sebagai salah satu cara untuk meningkatkan ekonomi negara. Indonesia sendiri akan memperkenalkan metaverse pada acara G-20 Indonesia.

Dengan berkembangnya metaverse, tentu menimbulkan banyak pertanyaan mengenai cara untuk membeli tempat di metaverse. Menurut narasumber webinar ini, cara untuk membeli tempat di metaverse adalah dengan menggunakan wallet sebagai cara pembayaran transaksi tersebut. Dengan internet, perangkat yang diperlukan, metaverse, dan wallet, maka pengguna dapat membeli tempat di metaverse. Salah satu perangkat yang dapat digunakan adalah Oculus. Perangkat ini dapat digunakan oleh pengguna untuk mengunjungi metaverse, walaupun saat ini harga perangkat tersebut masih dibilang cukup mahal.

Perkembangan teknologi ini menimbulkan kekhawatiran baru yaitu keamanan digital. Dengan bergabungnya pengguna ke dalam metaverse, tentu perangkat akan mengakses beberapa alat seperti kamera, mikrofon, track location, dan hal yang terkait dengan tubuh seperti gerakan badan, suara, bahkan detak jantung. Setelah itu, banyak beberapa kasus yang timbul seiring dengan berkembangnya metaverse. Salah satunya adalah pelecehan seksual di metaverse. Menurut narasumber webinar ini, apa yang terjadi di dunia nyata dapat pula terjadi di metaverse, sehingga pengguna perlu kewaspadaan tinggi dalam penggunaan metaverse, agar dapat menggunakannya dengan aman dan tepat guna.