Jakarta – Generasi milenial dilihat memiliki pengaruh yang signifikan dalam ekonomi terutama untuk membangun kembali ekosistem ekonomi berbasis digital di era pasca pandemi. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si, mengatakan bahwa terjadi perlambatan ekonomi sebesar 2,9%  yang diakibat oleh pandemi COVID-19. Penurunan diakibatkan oleh pelaku bisnis yang menghentikan usahanya saat pandemi COVID-19, yang juga mengakibatkan pada tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Berdasarkan data dari Kementerian Tenaga Kerja, jumlah karyawan yang dirumahkan berjumlah 212.344 orang. Sehingga, perlunya tindakan untuk mencegah kemiskinan yang lebih lanjut akibat COVID-19, karena kemiskinan dapat meningkatkan tingkat kerawanan dan konflik sosial. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan entrepreneur atau kewirausahaan pada milenial. Hal ini dikarenakan angka kerja di Indonesia 70% berasal dari kaum milenial, sedangkan 30% berasal dari umur tidak produktif pada rentang tahun 2020-2030. Sehingga kaum milenial perlu berpikir lebih luas lagi untuk tidak bergantung pada bekerja di tempat formal, melainkan berwirausaha. Pada 2020, pemerintah merencanakan program “Bangga buatan Indonesia” untuk meningkatkan konsumsi dan industri kreatif. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan e-commerce sebagai sarana untuk mempromosikan produk buatan lokal, sehingga tidak hanya saja banyak yang menggunakannya namun juga masyarakat bangga memakai produk lokal.

Selain itu, beliau memaparkan pentingnya talenta indonesia untuk siap menghadapi transformasi digital. Hal ini dikarenakan di masa depan akan ada banyak tenaga kerja yang tergantikan oleh mesin. Indonesia sendiri menempati peringkat ke-45 dalam hal kesiapan menghadapi transformasi digital. Maka dari itu, perlu turut sertanya generasi milenial untuk dapat meningkatkan kesiapan transformasi digital antara lain menjadi digital talent, pelaku usaha, sekaligus potensi dasar dalam negeri. Sehingga saat ini pemerintah sedang merencanakan peningkatan sumber daya manusia dalam hal talenta digital antara lain penguatan ekonomi start-up untuk mendukung digital entrepreneur, meningkatkan konektivitas sebagai backbone ekonomi digital, membuat berbagai inisiatif, kebijakan dan regulasi. Terdapat pula tantangan dalam transformasi digital antara lain kurangnya talenta sumber daya manusia dan masih terkonsentrasinya industri di daerah Jawa khususnya Jawa Barat dan Jakarta. Namun generasi milenial memiliki pemikiran yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya yaitu lebih futuristic, sehingga diharapkan mampu membangun networking yang lebih luas dan memiliki wawasan yang luas mengenai Indonesia dan sumber dayanya yang luas.

Akademisi Universitas Esa Unggul, Gun Gun Siswadi, sebagai pemateri pertama pada webinar ini mengatakan bahwa di era digital ini perlu berubahnya bisnis konvensional menjadi bisnis online. Belau memberikan beberapa contoh wirausahawan yang berhasil sukses ketika mengubah usahanya dari konvensional menjadi online, diantaranya adalah seorang mantan guru di Medan, dan seorang perempuan yang berjualan kerudung dengan modal hanya Rp700.000,-. Walaupun dengan modal hanya Rp700.000,- namun dengan bantuan internet, usaha tersebut sangat berhasil dan kerudungnya selalu terjual habis. Hal ini dapat dijelaskan melalui hasil survey yang dilakukan oleh Hootsuite (We are Social) pada 2021, yang menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta orang atau 73,7% dari total populasi 274,9 juta orang. Sehingga, terjadi transformasi digital dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, termasuk di bidang usaha/bisnis. Maka dari itu, dibutuhkan kemampuan masyarakat untuk dapat memanfaatkan teknologi digital dalam meningkatkan aktivitasnya di bidang usaha/bisnis. Beberapa contoh dari transformasi digital antara lain pada sektor pendidikan dimana sekarang banyak sekali platform belajar yang tersedia secara online seperti ruangguru dan zenius. Lalu dari segi transaksi, adanya perubahan dari pembayaran menggunakan cash menjadi e-money seperti ovo dan gopay. Contoh terakhir adalah bisnis atau kegiatan usaha yang tadinya dilakukan secara offline di suatu toko, saat ini sudah banyak dilakukan secara online. Walaupun begitu, teknologi juga dapat memberikan dampak negatif seperti banjirnya informasi, banyaknya konten hoax, pornografi, radikalisme, sara, dan penipuan, serta menjadikan masyarakat menjadi tidak produktif. Maka dari itu, setiap individu harus mampu belajar cara memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya, salah satunya adalah dengan melakukan bisnis online.

Internet sendiri memberikan banyak manfaat terhadap bisnis, di antara lain menjadi media iklan, menyediakan fasilitas transaksi keuangan online, menyediakan peluang kerja, menyajikan pergerakan harga, mempermudah komunikasi bisnis, memangkas jalur distribusi, mempercepat proses transaksi, memperkecil biaya operasional, memudahkan pencarian informasi bisnis, serta meningkatkan peluang usaha secara global. Media sosial sendiri juga dapat membantu wirausahawan dalam melakukan bisnis online asalkan memiliki strategi yang benar. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain mengidentifikasi pasar yang dituju, membuat tampilan yang kuat dan menarik, menggunakan aplikasi pengolah gambar atau video, melakukan komunikasi dua arah dengan seluruh pihak, menjalin networking, serta konsisten. Dalam jualan online sendiri, terdapat strategi tersendiri yang dapat dilakukan untuk mensukseskan bisnis online tersebut yaitu, menentukan keunggulan produk dari kompetitif, memastikan produk cocok dengan kebutuhan pasar, membangun database pelanggan, memasarkan produk sebaik dan seluas mungkin, serta mampu membaca peluang yang ada.  Banyak sekali jenis barang yang laku untuk ditawarkan dengan menggunakan internet misalnya seperti sembako, makanan, pakaian, kosmetik, dan alat elektronik. Untuk pemula sendiri, pemateri menyarankan beberapa jenis usaha yang cocok untuk dilakukan seperti layanan antar jemput barang, menjualkan barang milik orang lain, menawarkan produk lokal, usaha makanan, serta menjual pakaian.  Para pemula tersebut dapat mencoba bisnis online, dengan melakukan beberapa tips yang diberikan oleh pemateri yaitu (1) selalu perbarui SEO, (2) Memanfaatkan gerakan blogging, (3) Jaga konten agar ramah seluler, (4) Gunakan email dan media sosial, (5) Menggunakan influencer sebagai salah satu metode pemasaran, dan (7) Menerapkan pemasaran video.

Namun tentu saja, hal tersebut tidak jauh dari tantangan digital. Pemateri menyebutkan terdapat 5 tantangan digital ekonomi di Indonesia yaitu adanya serangan siber, persaingan yang semakin ketat, kurangnya pembangunan sumber daya manusia, kurangnya ketersediaan akses internet, dan regulasi yang belum mengikuti perkembangan zaman. Maka dari itu pentingnya digital literasi yang berguna untuk meningkatkan literasi digital di Indonesia. Pemerintah sendiri sudah memiliki program yaitu literasi digital yang terdiri dari empat kerangka yaitu digital skills, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Diharapkan, dengan meningkatnya literasi digital terutama literasi media sosial, setiap individu lebih mampu mengidentifikasi informasi yang merugikan, membuat kontek bisnis yang menarik dan mudah dipahami, serta mampu melakukan kampanye literasi bisnis melalui tagas #cintaiprodukindonesia dan lain-lain.

KRMT Roy Suryo, sebagai pemateri kedua menjelaskan bahwa teknologi informatika memiliki banyak peran terutama pada masa pandemi COVID-19. Dengan adanya teknologi, informasi dapat sampai lebih cepat, serta adanya perubahan-perubahan baru dalam kehidupan sehari-hari misalnya sekolah dan bekerja secara online. Menurut hasil survey yang dilakukan oleh We Are Social pada tahun 2021, pengguna internet di Indonesia mencapai angka 345,3 juta jiwa atau setara dengan 125,6% dari populasi masyarakat Indonesia dengan waktu rata-rata pemakaian internet mencapai 8 jam 52 menit setiap harinya. Internet dan media sosial mengubah cara publik berkomunikasi, berinteraksi, dan berkolaborasi, baik itu di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Media sosial menawarkan cara yang lebih cepat dan tepat untuk berpartisipasi dalam pertukaran informasi secara daring. Sehingga di era digital ini, berita tidak lagi hanya berasal dari media mainstream, tidak hanya bersifat searah, dan banyaknya anggota masyarakat menjadi narasumber maupun pencari/penyebar berita. Maka dari itu, dibutuh strategi komunikasi yang lebih piawai, lebih responsif, & lebih cepat.

Untuk menghadapi perubahan digital dan era industri 4.0 serta society 5.0, perlu dilakukannya beberapa strategi agar masyarakat siap menghadapi perubahan. Beliau menyampaikan beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah literasi data, literasi teknologi, literasi manusia, serta mengubah cara manusia hidup di dunia baik dari pemikiran, cara bekerja, sarana bekerja, hingga cara menjalani hidup. Selain itu, beliau juga menyampaikan strategi yang dapat dilakukan untuk mengubah bisnis dari offline ke online antara lain target segmen yang Jelas  dan konten yang terus diperbaiki serta tidak monoton. Pelaku Digital Online harus bisa berjiwa “Entrepreneurship” yaitu mampu menerapkan kreativitas & inovasi, pemanfaatan peluang, membuat perubahan, serta mampu memberikan nilai tambah bagi diri sendiri & orang lain. Diharapkan, dengan melakukan beberapa strategi berikut, masyarakat mampu mempersiapkan diri lebih baik untuk membantu membangun ekosistem ekonomi berbasis digital di Indonesia.