– HUJAN –

Duduk di depan rumah santai menikmati secangkir kopi hangat, ditemani sebatang rokok kretek di tangan.

Aku berkhayal sembari melihat dengan kosong keluar halaman rumah, sore ini hujan turun menambah suasana khayal ku semakin lengkap

Hujan …. Kenapa kami tidak bisa sepertimu, ramai namun tetap turun searah tanpa bersinggungan satu sama lain, tidak menyakiti sesama hujan … Kadang kalian meninggalkan pelangi yang elok di pandang mata. Kalian juga tidak pernah mengeluh … Tidak pernah merasa paling suci di antara tetesan tetesan hujan yang lain, mungkin kalian sadar kalau kalian tercipta dari gumpalan awan yang sama walaupun butir butir hujan tidak selalu sama ukuran nya

Andai kami bisa memahami itu … Maka kami akan melakukan hal yang dengan kalian tapi kami selalu merasa kami benar antara yang lain sehingga mulut, otak, serta jari kami bebas untuk melakukan apa saja.

Hujan … Kau telah mengajarkan kalau kalian juga bisa murka, kalian bisa luapkan air sungai hanya dengan sekejap … Kalian bisa hanyut kan rumah kalau kalian bersatu. Harus nya kami sadar kalau kami bersatu maka kami akan sulit di bendung, sulit diprovokasi.

Ah …. Hujan telah reda, aku beranjak dari tempat duduk yang nyaman ini

Terima kasih hujan ….