Saat ini, di tahun 2016, Yogyakarta membangun beberapa startup yang “harus dipertimbangkan” dalam skala lebih besar (nasional dan internasional), seperti Salestock.com (Girl Fashion Services), Lexipal (Dyselexia VR Gamification), JAKPAT (polling apps), Kulina (Healthy Food Delivery Apps), dan yang terbaru, TAXIES (apps taksi lokal).

Terlebih lagi, beberapa fintech lokal berpotensi, seperti SatuLoket.com dan Veryfund, yang juga menambah warna startup Yogyakarta. Akhirnya, beberapa startup populer, seperti GoJek, Tiket.com, juga startup internasional seperti Gameloft, 123rf, BIMA Milvk (Stockholm Insurance), dan SoftwareSeni Ltd (Australian Software house) juga buka di Yogyakarta.

Sekarang, setiap orang membuat startup di kota ini dan dampaknya adalah kompetisi startup yang sangat ketat. Jika Anda melihat setiap penyeberangan di Yogya, Anda akan melihat ads atau videotron mengenai servis startup. Tapi, jangan khawatir! Apapun yang kita mulai, dan tidak berhasil, akan menginspirasi orang lain untuk membuat yang lebih besar dan lebih kuat lagi. Karena ekosistem yang mendukung.

Bagaimana dengan lingkungannya? Sangat kondusif. Anda bisa meminta vendor untuk membuat website Anda (standar/wordpress) dengan USD400, all in. Bahkan, gaji tech-people sekitar USD235, dan jika Anda ingin tinggal di kota ini, Anda hanya membutuhkan USD100 untuk kehidupan sehari-hari. Sangat mendukung untuk startup bukan?

Jangan pernah lupakan komunitas dan asosiasi. Untuk newbie atau “start of startup”, Anda bisas bergabung dengan Startup Weekend, dan untuk expert, Anda join ADITIF (Asosiasi Digital Kreatif). Beberapa coworking space seperti Maliome dan JDV, juga perlu dipertimbangkan, selain Anda pergi ke cafe internet seperti Platinum atau Luxury di Jalan Kaliurang, untuk menikmati kopi selagi bekerja.

Yogyakarta punya banyak cerita, meskipun Anda bukan orang Yogya. Dan Yogya merupakan tempat terbaik untuk membangun bisnis startup.

(*/Unclekick.)